DKNY Hybrid Watch Collection

Fashion Report

Re+Habitat untuk Indonesia Trend Forecasting 2015/2016

By  | 
sdk-as-5284

Alliance

“Untuk menjadi pusat mode dunia tahun 2025, Indonesia harus menjadi trendsetter, bukan follower,” kata Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat membuka fashion show untuk Indonesia Trend Forecasting 2015/2015 dengan tema Re+Habitat, 20 Februari 2014. Re+Habitat, dari kata rehabilitation dan habitat. Rehabilitation dengan kata lain recovery atau pemulihan,  menadakan sebuah era baru yang lebih menyenangkan, aman, stabil, dan cerah.

`Trend forecasting merupakan pendekatan ilmiah untuk memahami perubahan pola pikir masyarakat di kota-kota besar di seluruh belahan bumi. Dengan membaca pola pikir, maka bagi industri kreatif akan mudah membaca selera konsumen yang dirumuskan dengan tren.Dari tren diterjemahkan ke dalam desain.  Mari Elka menambahkan, bahwa tren ini bukan hanya untuk dunia fesyen di Indonesia, tapi juga bidang desain lainnya, termasuk interior, arsitek, desain grafis dan lain-lain.

Dari mempelajari tren dunia, dibawa ke desain lokal Indonesia. “Kami akan mengangkat empat lokasi di Indonesia yaitu Solo, Jakarta, Banjarmasin, dan Raja Ampat,” kata Dina Midiani, salah satu inisiator trend forecasting. Bersama Irvan A. Noe’man (BD+A Design), ia menggagas trend forecasting sejak 2008. Empat kota tersebut punya cerita masing-masing. Solo mewakili kota kontemplasi dan harmonisasi  antara mempertahankan tradisi dan terpengaruh dengan budaya modern. Konsep ini diterjemahkan oleh Riska Ulfa Jasmine (Interstudi), Ilham Nur (Institut Kesenian Jakarta), dan Maria V Lydia (Raffles) dalam ltema Alliance.

Selanjutnya Banjarmasin. Menurut Dina, kota ini mewakili Kalimantan yang terkenal dengan kekayaan hutannya namun kini mulai terkikis. Penebangan hutan dan alih fungsi hutan yang mengkhawatirkan keberadaan hutan ini diterjemahkan dalam fashion show bertema Biomimetics. Merupakan perpaduan unsur lokal Kalimantan yang dipadukan dengan modern sebagai solusi untuk menjawa eksploitasi alam. Karya ini disajikan oleh Vonny Kirana (Esmod), Reiza Moushadeq (LPTB Susan Budihardjo), dan Marselina A Manalu (Universitas Maranatha).

Dari Banjarmasin, tren forecasting menuju Jakarta. Kota yang mewakili pusat modernisasi di Indonesia dan pola kehidupan megapolitan. Hal ini diangkat dalam tema Adroit, menggambarkan kehidupan Jakarta dengan dunia maya yang semakin terintegrasi. Dunia maya dilihat dari sisi positif, tidak sekadar pelarian dari keresahan realita, tapi justru menambah kegembiraan, kecerdasan, dan kreativitas. Konsep creative mind set yang mewakili sosok kota Jakarta ini disajikan oleh Christian Wohangara (LPTB Susan Budihardjo), Ivana Tanos (Phalie Studio), dan Priscilla Maharani (Lasalle).

Terakhir Raja Ampat, Papua. Kata Dina, “Raja Ampat mewakili kedekatan manusia dengan alam. Spiritualisme yang dekat dengan alam yang diterjemahkan dalam tema Veracious.”  Sebuah gambaran gaya hidup yang mengingatkan kita pada esensi utama kehidupan secara jujur, terbuka, dan mendasar untuk merasakan kebahagiaan dan kesehatan jasmani rohani. Tema ini diterjemahkan dalam desain busana oleh Bunga Natasya & Hanny Meiwita (Asride-Iswi), Iwan Amir (Universitas Negeri Jakarta), Maya Agustini & William Kurniawan (Bunka School of Fashion), dan Suci Fitria (STDI-Bandung).

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

1 Comment

  1. Marcella

    06/07/2014 at 10:12 AM

    First of all, saya mau bilang bahwa saya senang banget Indonesia punya time fashion trend forcaster. AWESOME! We indeed need that.
    Namun, sebagai orang yang sedang dalam proses mendesain dan menjual pakaian ke konsumen, hasil forecasting-nya membingungkan. Beberapa hal yang membuat bingung adalah :
    1. warna apa yang orang suka di tahun 2015 nanti? kenapa? Kalau melihat Re+habitat fashion show beberapa palet warna yang bisa kusimpulkan adalah abu-abu muda, biru muda, kuning neon/kuning telur, putih, silver dan fold. (Anyway fashion show-nya keren)
    2. siluet pakaian apa yang mengekspresikan gaya pakaian di tahun depan? apakah orang-orang akan lebih suka memakai bahan yang ringan dan terbawa angin/ ringan tapi kaku/ yg bulky/ apa? dan kenapa?
    3. Konsep yang paling menarik ada di biomimetics, bagian designer-nya mengubah bentuk baju dalam waktu singkat. Mungkinkah orang-orang akan tertarik dengan convertible clothes? Dari sisi biaya, convertible clothes memang lebih efisien karena kita bisa mendapatkan model yang berbeda dari 1 baju saja.

    Seandainya hasil forecasting-nya disampaikan secara sederhana melalui presentasi/power point, it will be great.

    Salam hangat. tks.

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *