DKNY Spring 2017 Collection

Fashion Designer

Savira Lavinia, Berpikir di Luar Kotak

By  | 
Photo by Sadikin Gani

Savira Lavinia, Juara Pertama Indonesia Fashion Design Competition 2014

Busana khas Indonesia tak hanya soal kain tradisional. Kesenian, upacara, simbol, bahkan keseharian masyarakat pun bisa menjadi inspirasi desain. Savira Lavinia jeli mengeksplorasinya.

Awal bulan Februari silam, tim The Actual Style bertemu dengan Savira, pemenang ajang Indonesia Fashion Design Competition 2014. Ia menang karena berbeda. Ketika peserta lain kebanyakan mengotakkan diri pada kreasi kain tradisional untuk mewujudkan tema busana khas Indonesia, Savira berpikir di luar kotak. Ia membawa barong ke dalam desainnya. Pun desainnya kerap tak terduga. Terkadang misterius, seperti penampilannya sore itu. Ia mengenakan cropped top hitam dengan jaket yang ia desain sendiri. Celana panjan hitam, dipadu dengan sandal, terlihat cuek namun misterius. Kesan susah ditebak ini rupanya menjadi gambaran dalam desain karyanya.

“Konsep aku dalam mendesain itu anomaly, sesuatu yang tidak gampang diprediksi unsur elemennya. Aku juga menggunakan metaphor untuk koleksi aku. I like the world complicated and I turn it into fashion detail. Kalau tema season collection aku pasti pakai unsur lokal. Kalau barong karena aku punya koneksi personal, seperti punya ikatan batin yang aku tidak bisa jelasin kenapanya,” kata Savira. Barong adalah tema desain yang menjadikannya juara di IFDC 2014.

Dalam mendesain, inspirasi Savira bisa datang dari mana saja. Bahkan motif dalam tes psikologi Rorschach Test bisa menjadi inspirasi. Rorschach test adalah tes psikologi dengan cara membaca bercak tinta. Motif ini dibawa Savira ke dalam desain busana.

“Kalau dari Rorschach aku suka aja. When the way people have a different perspective,” ujarnya. Baginya menarik, membuat motif abstrak lantas orang bebas menginterpretasikan desain motif yang ia buat. ”If you ask the creative person why everything they do, they not be able to answered, because they just do it,” jelas Savira.

Seni Haruslah Jujur

“Waktu kecil awalnya pengen jadi dokter hewan, sampai jadi koki. Tapi dari kecil udah terampil bikin baju boneka,” kenang savira. Berangkat dari hobi menggambar. Kemudian saat SMP gemar mendesain gaun prom untuk teman–temannya, menjadikan Savira mendapat tawaran menjadi part time desainer sebuah butik di Jakarta. Tawaran tersebut tidak diambil oleh Savira karena masih kecil.

Ia sempat bekerja menjadi visual merchandiser untuk sebuah brand lokal di Jakarta. Tadinya aku mau ambil fine art, tapi mama suruh aku ambil fashion dulu. Akhirnya aku ambil ESMOD karena deket rumah juga,” jelasnya.

Ketertarikan Savira untuk mendesain mendapat dukungan penuh dari ESMOD Jakarta. Namun proses tersebut juga menyadarkan Savira ketika Olivie, salah satu dosennya, memberikan masukan padanya. Bahwa ternyata seni haruslah jujur. “Don’t do this to get a score, don’t do this to impress someone, just do it because you think its right,” ujar Savira menirukan kata dosennya yang selalu ia ingat.

Ketertarikan Savira terhadap eksplorasi, baik tema maupun material membawa Savira mengikuti IFDC tahun 2014. Saat desainer lainnya mengusung kain nusantara untuk mengeksplorasi unsur Indonesia dalam desain, Savira melakukan hal beda. “Menurut aku, kita tidak harus memakai kain Indonesia. Mengangkat Indonesia tidak mesti dari kainnya. Masih banyak konsep Indonesia yang belum diangkat, seperti barong ini,” kata Savira.

Desainer Muda Lebih Berani Tampil Beda

Kemenangan Savira membawa dirinya berkesempatan melanjutkan pendidikan fashion ke Italia. Kesempatan ini dimanfaatkan Savira untuk memperdalam pengetahuan pola. ”Lagi pula pengajar desain di sana kurang bisa bahasa Inggris,” jelas Savira sambil tertawa.

Italia memberikan pangalaman tersendiri bagi Savira. Ia melihat bahwa desainer muda di Italia masih di bawah bayang–bayang desainer pendahulunya. Terlebih dalam hal konsep. “Kalau dibanding desainer muda di Indonesia, desainer di sana tuh konsepnya masih kurang. Its nice but it doesn’t say anything, gak berkarakter,” ungkap Savira.

Menurut Savira desainer muda Indonesia sudah mulai mampu menyamai standar desainer–desainer luar. Pencapaian ini karena desainer Indonesia kerap dipandang sebelah mata. Sehingga mereka berkerja lebih keras untuk mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan desainer senior. Menurut Savira, sebagian desainer senior mulai kehilangan kreativitas mereka dalam mendesain. “In the end, its all about the money. Kalau aku pribadi kurang suka dengernya. Hal itu membuat kreativitas jadi terbatas,” ujar Savira.

Savira sangat menikmati proses eksplorasi kreativitas yang ia lakukan. Namun proses eksplorasi tersebut masih dalam koridor busana ready to wear. “Semuanya base on trend forecasting, trend research, and my basic instinct. Cara aku merefleksikan apa yang orang mau pakai, dari diri aku sendiri,” katanya.

Kreativitas dalam Koridor Ready to Wear

Pengalaman belajar di Italia menjadikan Savira mendapatkan kesempatan untuk magang dengan desainer asal Belanda. Rumah mode Iris van Herpen menjadi tempat Savira melanjutkan eksplorasi desainnya. Iris Van Herpen merupakan desainer haute couture yang mengusung teknik percetakan trimata (3D printing).

Tidak bisa dipungkiri bahwa industri fashion akan berjalan ketika terjadi bisnis di dalamnya. Hal tersebut yang membuat Savira harus menemukan titik idealismenya dengan kemauan pasar. “Dalam setiap koleksi aku pasti ada 3 kategori: basic, medium, and avant grade. Bagaimanapun ready to wear-nya harus jalan. Cara kita influence orang lebih banyak dari ready to wear dibanding couture,” jelas Savira.

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *