DKNY Spring 2017 Collection

From The Pit

Surat Cinta dari Ruang Pewarta

By  | 
Photo by Sadikin Gani

Suasana di salah satu lorong pameran dagang Indonesia Fashion Week 2015

Untuk Panitia Indonesia Fashion Week 2015

Salam hormat dan sayang saya, dari salah satu peliput the biggest fashion movement. Sebelumnya, saya menuliskan surat ini karena sayang saya kepada event dan cita-cita indah untuk fashion Indonesia, untuk Indonesia. Sebuah mimpi untuk menjadi pusat mode dunia pada tahun 2025. Mimpi yang demikian besar dan indah. Saya mendukung, sebatas kapasitas saya sebagai tukang nulis.

Saya ucapkan selamat atas terselenggaranya IFW 2015. Selamat untuk panitia dan semua pihak yang telah mendukung acara itu, dengan jerih payahnya. Saya yakin, di balik event 4 hari itu, banyak sekali tangan-tangan yang bekerja sepanjang tahun. Saya ucapkan salut atas semua itu.

Hanya saja, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, demi kebaikan untuk event mendatang. Suara-suara yang saya rasakan di press room dari kami para penulis berita.

Karena IFW bukanlah sebatas selebrasi 4 hari di gemerlap runway dan riuhnya bazar. Ya, di bilik-bilik bazar tahun ini lebih riuh dibanding tahun lalu. Bahkan ada penjaga booth yang perlu berteriak-teriak untuk menawarkan dagangannya yang banting harga. Hal ini mengingatkan saya dengan suasana di pasar grosir. Benarkah demikian? Saya belum pernah mengunjungi Fashion Week di luar negeri. Hanya saja, dalam bayangan saya, bahwa IFW berbeda dengan bazar lain yang juga menawarkan busana.

Keriuhan pengunjung itu menjadi penting karena kemudian menjadi tantangan bagi kami, para peliput untuk melewati arena itu. Melewati koridor itu. Pasalnya, akses ruang-ruang yang harus kami kunjungi untuk tugas peliputan terkait dengan keriuhan pengunjung tersebut. Dengan kata lain, butuh perjuangan untuk melewatinya.

Apa sih yang ruang yang dikunjungi peliput? Pertama ruang registrasi, kedua ruang presscon-untuk berlangsungnya konferensi pers, ketiga ruang coffe break yang biasanya menyatu dengan ruang kerja, keempat runway, kelima kalau ada stage yang lain. Kali ini, entah bagaimana, semua ruang itu berjauhan. Bahkan satu ruang yang berjajar (ruang registrasi, presscon, coffee break) yang berdampingan saja disekat. Untuk mengakses, kami harus melewati bazar itu. Sabtu Minggu, ketika pengunjung berjubel, kami sungguh putusa asa. Kadang-kadang terpaksa berhenti menunggu dengan gusar, sekelompok pembeli yang dengan santai berdiri di tengah koridor memilah-milah tumpukan kerudung, sementara di kepala kami menghitung detik. Kenapa tidak ditembus saja ruang yang sudah berdampingan itu dengan connecting door?

Belum lagi, dari press room ke stage 1 dan 2. Itu butuh peluh lagi untuk mencapainya. Waktu 15-20 menit terbuang untuk berdesakan dengan bazaar. Sampai kemudian, beberapa dari kami, rela melepaskan runway atau presscon karena sudah kelelahan. Padahal kami, punya ambisi untuk meliput semuanya. Ketika tidak mungkin, kalau alasannya bentrok jadwal, masih bisa dimaklumi. Tapi karena akses, di situ kami merasa sedih.

Kami mengeluhkan ini, karena membandingkan tahun lalu. Walau jadwal padat, tapi masih mungkin untuk meliput dengan nyaman. Belum lagi bila membandingkan dengan event serupa lainnya yang bisa lebih rapi dikelola. Jadwal diatur sedemikian rupa, dengan lay out ruangan yang mudah diakses, sehingga peliputan bisa optimal.

Ya, ruang registrasi untuk wartawan itu cukup lucu untuk diingat. Di hari pertama, untuk mencapai ruang registrasi, seperti mencari The Chamber of Secret. Tanpa petunjuk dan tersembunyi. Di hari kedua, kami mulai menghafal rute. Lumayan ada perbaikan, ada petunjuk yang ditempel.

Registrasi online, MC, dan Paperless

Itu soal lay out ruangan. Soal materi, saya dan beberapa kawan cukup putus asa. Press Release! Selembar kertas itu berarti bagi kami. Minimal kami tidak salah untuk menuliskan nama narasumber, tema busana, jumlah busana, ide, dan lain-lain soal show dan hal-hal lain yang ingin kami tulis. Selembar saja. Itu tidak kami dapatkan di hari pertama.

Lalu kami mendapat jawaban, akan dikirim via email karena ingin menerapkan paperless. Saya salut dengan gerakan itu. Saya mendukung juga. Tapi masalahnya, bagaimana jika gerakan itu justru menyulitkan? Karena ada beberapa media yang butuh menayangkan berita dengan cepat, sementara press release tidak ada. Kalaupun dikirim online, di situ sinyal susah sekali. Internet lambat.

Saya rasa, paperless bisa disiati dengan mencetaknya di kertas bekas/kertas bolak balik. Itu sudah jauh menghemat. Atau bila ada waktu lebih untuk wawancara ke narasumber, kami bisa merekamnya. Pada kenyataannya, tak semua konferensi pers bisa menghadirkan desainer untuk membeberkan apa yang perlu kami tahu.

Bahkan di hari ke-tiga, saya sungguh merasa tragis ketika harus mengantri panjang sekali, lama, di depan ruang yang tertutup, untuk mendapatkan release-baca: goodie bag. Baiklah, perkara ini terkadang cukup sensitif. Di lain sisi, sebetulnya untuk penulisan berita, kami hanya membutuhkan release saja.

Bila ada goodie bag sebagai kenang-kenangan, saya pribadi menghargai itu. Dan saya mencoba paham bagaimana panitia menjaganya. Karena memang terkadang lebih banyak wartawan dibanding barang yang tersedia. Bukankah itu bisa disiasasti dengan registrasi online dan kurasi? Itu sudah dilakukan, tapi begitu mengejutkan ketika di hari pertama saya datang, semua data itu nyaris tidak ada.

Semua orang yang datang di awal boleh mengambil ID. Yang terjadi, tak semua media yang lolos kurasi yang bisa meliput. Dan yang lolos kurasi malah tidak mendapatkan ID juga perlengkapan untuk menulis berita. Saya rasa, registrasi dan kurasi yang rapi hingga akhir, akan mempermudah mengendalikan alur di lapang.

Hal ini diperparah dengan panitia yang tidak semua paham informasi dan MC. Di beberapa event, MC-nya bahkan tidak tahu nama narasumber yang ada di depan. Nama dan asal mereka, itu bekal awal untuk mengenalkan narasumber ke pers bukan?

Di hari kedua dan seterusnya memang sudah ada perbaikan. MC-nya cukup kooperatif walau informasi masih tetap susah didapat. Tapi sayang bukan, bila satu hari terlewat dengan puluhan desainer di hari itu?

Panitia IFW, dearest…

Demikian surat dari saya pribadi, untuk bisa menjadi perbaikan di peliputan ke depan. Saya pun punya mimpi untuk kemajuan fashion Indonesia. Bahkan karena tertariknya saya dengan materi-materi yang disusun, bahkan acara pre-event, saya tidak ingin melewatkannya. Dengan senang hati saya dan media saya memberitakannya. Kegiatan berkelanjutan tahun demi tahun. Tapi sayang sekali, ketika berita tidak berhasil kami buat karena kesalahan teknis yang sebetulnya sudah bisa diatasi di IFW sebelumnya.

Salam hangat,

Titik Kartitiani

Foto: Sadikin Gani

1 Comment

  1. Dina Midiani

    04/03/2015 at 1:32 AM

    Dear The Actual Style,

    Terima kasih atas dukungannya selama ini, juga atas kritik dan sarannya yang membangun.

    Regards,
    Dina Midiani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *