DKNY Fall 2017 Collection

Fashion Designer

Unsur Tradisional dalam Desain Modern

By  | 
Photo by Sadikin Gani

Felisa Aprilia, Juara Pertama Next Young Promising Designer 2014

Kain tradisional menjadi inspirasi Felisa Aprilia untuk membuat ready to wear yang modern. Ketersediaan material yang terbatas menjadi tantangan sendiri untuk mewujudkan idenya.

Bagi Felisa Aprilia, melestarikan budaya Indonesia salah satunya dengan menggunakan kembali wastra nusantara. Kecintaannya pada kain tradisional membuat ia memenangkan Next Young Promising Designer 2014. Next Young Promising Designer (NYPD) ialah kompetisi desain busana yang diselenggarakan oleh Jakarta Fashion And Food Festival (JF3) berkerja sama dengan Cita Tenun Indonesia (CTI). Felisa mengangkat kain tenun ulap doyo ketika menjuarai NYPD 2014.

“Aku suka segala sesuatu yang tradisional, entah itu materialnya ataupun cerita di balik suatu benda itu sendiri. Aku tertarik mengangkat segala sesuatu unsur tradisional, meskipun tradisional namun tetap mengikuti tren. Intinya unsur tradisional dengan package yang lebih modern,” kata Felisa. Ia datang dengan mengenakan busana atasan hitam dan bawahan celana khaki berpotongan loose, serta detail aksesoris kalung etnik khas Kalimantan. Unsur etnik dan tradisional ternyata juga terasa dalam busana kesehariannya.

Inspirasi dari Segala Hal

Awal Felisa memasuki dunia desain busana bisa dibilang sebuah “kecelakaan” “Pertamanya pas lagi nunggu mau masuk kuliah. Sebenernya aku udah terdaftar di kuliah bisnis. Aku coba ikut event Jakarta Runway Project di tahun 2010. Ternyata masuk jadi 10 finalis. Dari situ aku liat sepertinya ada peluang aku di sini,” kenang Felisa. Berawal dari ketidaksengajaan tersebut, membuat Felisa yang tidak mempunyai basic gambar dan menjahit, memutuskan untuk mendalami desain busana. ”Modal aku cuma karena suka dan aku ngerasa pas di sini,” tambah Felisa.

Mempelajari desain busana ternyata tidak hanya menggambar dan menjahit, melainkan harus mempunyai konsep koleksi yang jelas. Agar setiap koleksinya mempunyai benang merah.Hal tersebut di luar ekspetasi Felisa ketika memulai belajar di ESMOD Jakarta. “Ketika mencari inspirasi, kebanyakan orang, acuannya desainer lain. Kalau di kampus, kita diajarin untuk melihat dari benda yang kita suka dan menginspirasi. Jadi kemungkinan untuk sama dengan yang lain sedikit,” ujar Felisa.

Unsur Etnik dalam Busana Ready To Wear

Unsur etnik kerap kali menjadi inspirasi Felisa dalam mendesain busana. Hal tersebut juga dituangkan dalam koleksi busana ready to wear yang sedang ia persiapkan. Menurut Felisa, menggolah bahan ataupun unsur tradisional sehingga dapat diterima oleh masyarakat luas bukanlah perkara yang mudah. “Aku harus cari desain yang bisa dengan mudah diproduksi banyak. Dan pemilihan bahan pun tidak bisa yang terlalu susah didapat. PR aku sih itu, pemilihan bahan dan desain yang harus hati–hati,” jelas Felisa.

Diakui oleh Felisa mencari bahan kain tradisional di Jakarta sangatlah sulit. Untuk mendapatkan bahan kain tradisional, Felisa harus pergi ke desa–desa perajin di pelosok. Hal ini pula yang membuat Felisa harus mengakali penggunaan bahan tradisional ke dalam koleksi ready to wear-nya. Yaitu dengan mencampur penggunaan bahan modern dan tradisional. Selain membuat tampilan busana lebih ringan, juga lebih menghemat biaya produksi sehingga busana ready to wear yang dihasilkan lebih terjangkau.

Kurangnya Perhatian untuk Label Lokal

Felisa lebih memilih web-store sebagai sarana ia mendistribusikan koleksinya. Di samping era digital yang sedang berkembang, melalui web-store, masyarakat tidak perlu bersusah payah untuk melihat koleksi ataupun membeli. “Sekarang aku agak susah melihat department store di Indonesia. Karena sebagai desainer muda aku merasa jarang yang mau nampung barang kita, dan orang memang mau datang melihat,” kata Felisa.

Menurut Felisa, kesadaran masyarakat Indonesia akan label lokal masih kurang. Hal tersebut berbanding terbalik dengan pengalaman Felisa yang sempat mendapatkan kesempatan belajar fashion di Korea. “Selain mereka benar–benar memakai produk mereka sendiri, desainer muda Korea justru mendapatkan dukungan lebih. Banyak konsep store di sana yang lebih banyak menjual label lokal dari desainer muda Korea. Jadi para wisatawan bisa dengan mudah menemukan label lokal Korea, beda banget sama di sini,” ungkap Felisa menceritakan pengalaman yang ia temui di Korea.

Di samping sarana untuk mengembangkan label lokal di Indonesia yang dirasa kurang, menurut Felisa, acara fashion di Indonesia pun lebih memilih untuk menampilkan desainer–desainer yang sudah terkenal, ketimbang memperkenalkan desainer muda. Hal ini sejalan dengan media fashion di Indonesia yang lebih suka menampilkan desainer atau label internasional, dibandingkan dengan desainer atau label lokal Indonesia.

Teks: Bayu Raditya Pratama / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *