DKNY Spring 2017 Collection

Brands

Warna-Warni Pewarna Alam

By  | 

tas-3473

Indonesia kaya keanekaragaman hayati. Tapi kekayaan itu tidak lantas menjadikan negeri ini kaya jika tidak ada yang peduli  dan menunjukkan bagaimana menggunakannya. Kanawida salah satu yang menunjukkan kekayaan pewarna alam di sekitar kita.

Tahun 1780, William Marsden, sejarawan Inggris, mencatat ragam tumbuhan di Sumatera. Salah satunya tumbuhan pewarna yang digunakan penduduk lokal pada masa itu. Daun dan tangkai tarum atau yang kemudian dikenal sebagai indigo (Indigofera tinctoria) merupakan pewarna utama yang digunakan. Walau kemudian ditemukan beragam tarum dengan spesies beda, yakni Marsdenia tinctoria, tarum yang diambil daun dan tangkainya ini menjadi penting. Karena tumbuhan ini menjadi aset koloni Inggris, Marsden membawanya ke Inggris. Warna indigo yang dihasilkan sangat mahal pada masa itu. Hanya dihasilkan oleh kerang Murex yang langka. Bila ada tumbuhan yang bisa menghasilkan, maka merupakan aset yang mahal. Warna ini menunjukkan kelas dan identitas bangsawan (Buku Sejarah Sumatera, William Marsdem, Komunitas Bambu, 2013).

Berganti abad kemudian, tepatnya tahun 2007, Sancaya Rini, melirik pewarna alam ini untuk mewarnai kain karyanya. Bukan hanya sekadar nostalgia masa lalu, menggunakan pewarna alam merupakan salah satu upayanya untuk mendukung sustainable fashion. Fesyen masa depan yang akan menjadi unggulan negeri yang kaya akan sumber pewarna dan serat alam. “Ke depannya, orang akan lebih suka dengan slow fashion dan ethical fashion,” kata Rini. Slow fashion merupakan fesyen yang tidak musiman, merupakan gerakan berkelanjutan untuk meminimalkan dampat negatif terhadap lingkungan. Gerakan ini senada dengan slow food movement. Sedangkan ethical fashion merepresentasikan pendekatan soal desain, sumber, dan industri busana yang memberikan keuntungan besar bagi masyarakat dan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Sancaya Rini, Pendiri Kanawida

Sancaya Rini, Pendiri Kanawida

Pewarna alam sesuai dengan gerakan tersebut. Limbah (sisa dari pewarnaan) merupakan bahan organik yang bisa didaur ulang oleh alam sebagaimana mekanisme jaring-jaring kehidupan. Karena bahan berasal dari tumbuhan dan sampah organik di sekitar kita. Pengerjaannya pun melibatkan pekerjaan tangan yang memberikan pekerjaan bagi masyarakat. Mari kita lihat prosesnya.

Hasil Warna yang Tak Terduga

Bila kita melihat proses menghasilkan kain yang menggunakan pewarna alam ini, maka kita melihat busana bukan sekadar penutup badan tapi juga karya seni. Warna yang dihasilkan pun tidak bisa diduga dengan tepat benar. Itu kejutannya.

Rini menekuni pewarna alam ini diawali dari belajar batik. Lama kelamaan ia prihatin dengan pewarna sintetis yang menjadi bahan pencemar. Lalu ia coba dengan pewarna alam yang sudah digunakan sebelum pewarna sintetis ditemukan. “Awalnya hanya mencoba dengan kain seukuran sapu tangan,” kenangnya.

Kain katun ini dibatik dengan malam, lantas diwarna dengan rebusan bahan yang ada di sekitar kita. Mulai dari kulit rambutan, daun mangga, kulit kayu nangka dan lain-lain. Semua dicoba. Termasuk kunyit. Tapi ternyata, kunyit tidak terserap bagus untuk pewarnaan kain. Rini mencatat, kayu tingi (Ceriops candolleana) untuk warna coklat soga, secang (Caesalpinia sappan) untuk warna oranye marun, jelawe (Terminalia jewelica) untuk warna kuning, kecoklatan, hingga hijau. Buah pacar (Bixa orellana) untuk warna merah dan oranye. Kayu tegeran (Maclura cochinchinensis) menghasilkan warna kuning. Batang mahoni (Swietenia mahagoni) untuk warna coklat kemerahan. Yang paling menarik, indigo yang dihasilan oleh Indigofera tinctoria. Tanaman ini bisa menghasilkan warna biru tua hingga biru muda, mendekati lila.

Bahan-bahan tersebut direbus, airnya digunakan untuk mencelup kain yang sudah dibatik dengan malam. Prosesnya sama dengan proses membatik. Setelah dicelup, kain dilorot (dicelup dengan air panas) untuk menghilangkan malam di bagian yang tak ingin diwarnai. Setelah dicelup dengan cairan pewarna alam, dijemur sampai kering, kemudian dicelup lagi. Proses untuk menghasilkan satu warna bisa sampai 20 kali pencelupan dalam sehari di warna yang sama. Untuk warna indigo yang bagus, membutuhkan waktu 3 hari. Baru di hari ke-tiga, warna dikunci dengan mencelupkan ke cairan fiksator.

Kelembapan, proses tirisnya air saat dijemur, asal bahan pewarna, dan jenis kain memengaruhi hasil. Menurut pengalaman Rini, kain sutra mempunyai daya serap warna paling bagus. Disusul oleh serat rami, lantas katun (kapas). “Saya memakai sutra produksi Rumah Sutra, Bogor. Sutra produksi dalam negeri ini lebih mudah diwarnai dibandingkan dengan sutra impor. Saya heran, kenapa pemerintah tidak mencoba mengembangkan sutra lokal. Juga serat alam yang kita punya,” kata Rini, yang juga alumni Fakultas Pertanian, UGM. Pada masa kuliahnya, ia pernah meneliti potensi serat lokal yang tinggi. Tapi belum banyak perhatian ke arah produksi benang dari bahan-bahan ini.

Faktor kelembapan juga berpengaruh. Saat penjemuran (tanpa sinar matahari), sebaiknya air menetes sempurna. Jika tidak, maka pewarnaan tidak merata. Oleh sebab itu, kain yang bisa diwarnai tak lebih 3m panjangnya. Bila lebih dari itu, saat mengaduk di pewarna tidak rata. Karena pengadukan masih dengan tangan. Pun menjemurnya, masih mengandalkan kebaikan alam untuk mengeringkan kain.

Ragam faktor yang berpengaruh pada perwarnaan ini menjadikan warna yang dihasilkan beragam. “Saya pernah mendapatkan pesanan dari luar negeri dalam jumlah besar. Tapi karena warnanya harus pasti, saya tidak bisa memenuhinya,” katanya. Di sisi lain, keberagaman warna ini sebenarnya menjadi unggulan karena produk yang dihasilkan menjadi ekslusif.

Ada keinginan juga untuk memberi standar untuk warna. Agar warna yang dibuat akan sama dengan warna yang dihasilkan pada kain. “Suami saya kebetulan dari Teknik Kimia. Katanya, untuk menghasilkan ekstrak tersebut butuh biaya mahal,” terang Rini.

Green Concept di Stan IFW

Bermula dari mencoba penggunaan pewarna alam ini, Rini membangun Kanawida. Tahun 2008, Kanawida mulai berproduksi lebih banyak. “Kanawida artinya warna-warni,” katanya. Apa yang dilakukannya menarik perhatian beberapa pihak yang konsen terhadap lingkungan. Salah satunya, ia pernah dianugerahi penghargaan oleh Kehati pada tahun 2009. Selain itu, IFW (Indonesi Fashion Week) 2014 menempatkan Kanawida untuk mewakili stan dengan tema green concept.

Produknya pun semakin berkembang. Kali ini, dibantu oleh 5 pembatik dan menantunya untuk membantu desain busana.Tak hanya kain, tapi ia mencoba membuat ready to wear untuk persiapannya di Indonesia Fashion Week 2014, 20-23 Februari mendatang. “Kami membuat desain yang bisa dipakai untuk berbagai ukuran tubuh,” terangnya. Model coat multifungsi, atasan seperti baju jepang (kimono) hingga long dress longgar yang bisa diikat menyesuaikan bentuk tubuh pemakai. Model baju simpel yang tidak banyak detail akan menonjolkan warna alam yang ingin dikampanyekan sebagai produk unik. Ke depannya, ready to wear ini akan menggunakan label Kana. Sedangkan Kanawida memang khusus untuk brand kain.

Tak hanya busana,  bahan perca pun dimanfaatkan untuk membuat aksesoris. Kanawida ingin menunjukkan, bahwa ada proses menghasilkan busana yang ramah lingkungan dari hulu hingga ke hilir.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *