DKNY Fall 2017 Collection

Brands

(X)S.M.L Berkembang karena Berani Tampil Beda

By  | 

xsml-cover-2296

Lihat Koleksi (X)S.M.L di PIFW 2014 →

Merek lokal di pusat perbelanjaan bergengsi kerap hanya dilihat sambil lalu. Berbeda jika merek lokal tersebut berkualitas dan punya strategi unik untuk berkembang, maka pelanggan setia pun diraih.

Bertemu dengan Hansen Andrea, Sales & Marketing Manager (X)S.M.L, The Actual Style mendengar cerita tentang strategi merek ini. “Pangsa kami generasi X, generasi muda yang mau mencoba,” kata Hansen menjelaskan filosofi nama merek ini. Anak muda, dari usia 18 sampai usia 30 tahun, biasanya senang mencoba dan berani tampil beda. Inilah pangsa pasar (X)S.M.L.

Melawan Arus

Jurus itulah, menurut Hansen, menjadikan (X)S.M.L bisa bersaing dengan merek luar negeri yang masuk ke Indonesia. “Mereka punya modal sangat besar, untuk bisa produksi massal. Juga bisa iklan di mana-mana. Makanya kami harus berani tampil beda, unik,” ujar Hansen.

Tampil beda ini bisa soal desain, warna, dan padu padan bahan. Seperti hari itu, 23 Maret 2014, (X)S.M.L menggelar peragaan busana untuk koleksi Spring/Summer 2014. Saat 3 desainer luar mengarah ke warna teal (campuran biru dan hijau), warna yang tren tahun ini, (X)S.M.L berani berbeda dengan koleksi warna hitam dan putih. “Kalau sama saja dengan mereka, tidak ada yang kita tawarkan, maka kita akan kalah,” tambahnya.

Soal padu padan warna pun, (X)S.M.L cukup berani memadukan warna kontras. Seperti jas yang dikenakan Hansen pada saat itu, warna abu-abu yang ditambahkan oranye dan biru. Warna-warna yang terletak di posisi berseberangan di spektrum warna.

Selain desain, tantangan produksi pun dirasakan oleh (X)S.M.L dan merek lokal lainnya. Bila ingin harga terjangkau, maka produksi massal. Sementara untuk merek lokal biasanya terkendala dengan modal. “Sejauh ini, target kami mencukupi 10 gerai yang ada saja. Harganya pun sesuai dengan kualitasnya,” terang Hansen. (X)S.M.L punya 10 gerai di seluruh Indonesia. Lokasinya dipilih di kota besar, tempat anak-anak mudanya berani bereksperimen soal berbusana. Jakarta, Surabaya, dan Bali. Juga ada satu gerai di Singapura. Hansen menambahkan, jumlah produksi per desain mengandalkan riset dan juga perkiraan. Bila ada desain yang dirasa bagus, akan diproduksi banyak. “Kami pernah bikin 200 potong. Tergantung desainnya,” katanya.

Media Sosial dan Sentuhan Personal

Di luar produksi, ada promosi yang membutuhkan strategi tak kalah pelik. “Bagaimana produk kita mau maju, kalau iklan di majalah kebanyakan produk luar,” keluhnya. Karenanya, ia berharap bisa kerjasama dengan media soal publikasi ini. Karena produk yang bagus menjadi sia-sia jika tidak dipromosikan.

Selama ini, (X)S.M.L mengandalkan website dan media sosial. Karena pangsanya anak muda, maka media sosial sejauh ini masih efektif. “Aku juga juga melihat di Instagram, siapa-siapa yang suka pakai (X)S.M.L. Aku pelajari siapa dia, kalau ketemu aku bisa sapa namanya,” terang Hansen. Sentuhan personal ini efektif untuk membangun pelanggan setia. Juga yang berbelanja di gerai, bila bersedia meninggalkan diminta meninggalkan kontak. Mereka akan dikirimi email soal koleksi terbaru dan juga berita lainnya.

Soal toko daring, (X)S.M.L belum berpikir ke arah itu. Karena model yang unik, karakter konsumennya lebih suka datang langsung dan mencoba. Keunikan model busana, bila pas akan menjadi tampilan yang khas. Itu yang ingin dipertahankan merek yang diluncurkan sejak 2010 ini.

Teks: Titik K. / Foto: Sadikin Gani

Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *